What a Great Name!
Saya sangat suka memperhatikan nama-nama orang yang saya kenal. Ada yang bergaya kebarat-baratan, Sansekerta, Arab, kedaerahan ataupun ‘ndeso’. Nama saya sendiri biasa bang-get (meniru gaya iklan di televisi), bahkan teman saya pernah bertanya,” Kok kamu nggak complain sama bapakmu punya kakak namanya bagus?” Keqi bang-get! Dan memang nama kakak saya sering dipuji orang. Nama depannya Suci; kasusnya sama dengan orang yang punya nama Joko, Gadis, Dara, dsb… yaitu biarpun sudah menikah dia suci terus.
Ada juga yang namanya mengandung singkatan seperti teman saya punya nama belakang ‘Saparama’ saya pikir ini mungkin bahasa Sansekerta ternyata dari hari kelahirannya SAbtu PAhing bulan RAMAdhan. Ada juga yang berdasarkan urutan kelahiran seperti Finally Ragil Pamungkas yang sudah pasti anak bungsu, saya sering bilang pada teman saya kalau namanya sangat tidak efisien, habis Finally = Ragil = Pamungkas = terakhir. Sama tidak efisiennya dengan teman saya : Tika Kartika, masak sih nama diulang-ulang? Selain Finally, ada Firsty yang nomer satu. Kasihan juga kalau adiknya bernama Second, apalagi kalau ditambah Hand wah artinya jadi beda bang-get.
Di kantor saya paling banyak yang namanya Hari dan Heri. Sudah pasti yang bingung bagian Operator Telepon, apalagi kalau si Penelepon tidak tahu jabatan atau divisi si Bapak Hari, sudah pasti akan dioper dari satu Hari ke Hari yang lain sampai bertemu yang pas.
Salah seorang bos saya, Pak Hari pernah bilang,”Anak buah saya di perusahaan yang lama juga ada yg dari almamatermu, angkatan ‘92” Saya sebut semua nama-nama kakak kelas saya yang ada di memori saya, tapi tidak ada yang cocok. Si Bapak juga lupa nama senior saya itu. Sudah lewat beberapa bulan saat ngobrol-ngobrol lagi dengan si Bos, dia cerita kalau di keluarganya semua nama anak-anaknya memakai Hari, saya jadi ingat asisten saya,” Wah sama dong, Pak. Asisten saya juga satu rumah namanya Kun semua, jadi kalau mencari Mas Kun ya bisa-bisa seisi rumah keluar semua.” Boss saya terkejut,” Siapa nama asistenmu?” Saya menyebut nama lengkapnya. Si Bapak tampak surprise,”Lho itu anak buah saya di perusahaan yang lama…” Betul-betul kebetulan ya?
Teman saya malah jadi orang paling terkenal semasa SD, karena namanya ada di setiap buku wajib terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dulu biasa disingkat Depdikbud). Pelajaran membaca jaman saya SD pasti dimulai dengan, “Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi..dst” semua keluarga si Budi disebut. Karena itu saya suka menggoda teman saya, “Bud, waktu SD pasti kamu bacanya,’Ini saya, Ini Ibu Saya, Ini Bapak Saya’” ..hihi.. lha wong namanya sendiri.
Teman saya yang lain lagi, pernah naksir seorang gadis yang namanya Tira, kebetulan sama dengan merk salah satu produk pakaian. Jadi mulai dari jeans, jaket, topi, kaosnya semua sama dengan nama si gadis pujaannya. Waktu saya naksir pria bernama Edwin, saya pun bela-belain beli jeans bermerk Edwin… Waah rasanya bagaimanaa gitu, mencantumkan nama pujaan kita di bokong (hehe.. kan merk jeans adanya di situ).
Waktu punya pacar saya merasa semua lagu romantis diciptakan untuk saya, seperti misalnya, “I’ve been waiting for a Boy like you to hold my hand” (lagunya Alda bareng dengan Code Red) yach karena nama pacar saya Boy. Soal cari kado pun nggak perlu repot-repot, ada macam-macam produk Boy London, atau barang-barang lucu yang bertuliskan “I luv U Boy” bahkan ada seri Motor Harley Davidson yang bernama “Fat Boy” kebetulan sekali pacar saya itu Big Size jadi pas sekali kalau replika motor gede itu saya hadiahkan buat dia.
Itu senangnya saat hubungan baik-baik saja, waktu putus pun sudah ada lagunya,”Boy I miss your kisses all the time but this is 25 minutes too late” atau “Boy I’m not so damn, but when you leave me…”(Natalie Imbruglia) atau jika ada other woman bisa lagu “The Boy is Mine”-nya Brandy & Monica.
Kakak saya pernah punya hubungan dengan pria yang namanya Joshua waktu bintang anak-anak yang namanya Joshua lagi ngetop-ngetopnya. Setiap saat kita bisa liat penampilan Joshua kecil di TV entah jadi presenter, main sinetron atau iklan mulai dari minuman, mie instant, susu, vitamin, sepatu, baju, pokoknya banyak. Jadi saat putus kakak saya sampai ‘mutung’ nggak mau nonton TV daripada nangis Bombay tiap liat iklan Joshua.
Pernah salah seorang teman saya menawarkan mengenalkan teman prianya pada saya, dia menawarkan dua nama yang wajahnya sama sekali belum saya kenal. Saya pilih yang namanya betu-betul bagus (menurut saya) : Samudra… rasanya namanya nggak lazim dan natural sekali… kalau orang lain bisa jatuh cinta pada pandangan pertama, saya biasanya jatuh cinta pada nama. Aneh memang!
Terakhir saya kenal pria yang namanya juga bagus (masih menurut saya) karena jarang yang sama. Dan mulailah saya love at first say, maksudnya baru dengar dia menyebutkan namanya saja sudah suka banget…belum tentu suka orangnya lho. Tapi manusiawi kalau manusia tidak selalu dapat yang dia inginkan kan? Singkat cerita dengan rendah hati dan rasa malu yang mendalam saya akui kalau CTB, bukan Cement Treated Base (pelajaran jaman kuliah, tapi Cinta Tak Berbalas… kasiaaan deh loo!! Plus gerakan telunjuk zig zag dari atas ke bawah..hehe..). Masalahnya tidak sesederhana kakak saya yang tidak nonton TV untuk menghindari Joshua. Buat menghindari my CTB ini saya harus tidak beribadah setiap Minggu. Kan tidak mungkin?! Buat yang pernah ke gereja atau mungkin pernah lihat Mimbar Agama Kristen di TV pasti tahu kata-kata pembukanya, ”Shaloom saudaraku..” ..hik..hik… dan nangis Bombaylah saya setiap ibadah karena Shalom nama gebetan saya.
Catatan : Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk semua sahabat-sahabat terkasih saya yang merelakan namanya dipinjam disini.
Mei 2, 2008