Bila Engineer Nekat Jadi Pujangga

Posted On Mei 2, 2008

Disimpan dalam Poetry

Comments Dropped leave a response

I. Latar Belakang

Suatu hari Senin, saat otak mengalami jet lag syndrome setelah weekend menikmati konser Ari Lasso & Pinkan sampai jam 2 pagi dan event Big Walk 10.000 langkah di pagi hari, mendadak 3 engineer gemblung mendapat wangsit di siang hari bolong… Dan konsletlah jaringan otak mereka sehingga menelurkan sederetan puisi gila….

II. Bila engineer jatuh cinta

RASA DAN MASA

Rasa adalah sesuatu yg meronta di dalam dada
Rasa adalah pedih, marah dan bahagia
Rasa adalah semua gelora yang aku punya
Rasa adalah semua asa yang kutanam bersama dirinya

Masa adalah rangkaian waktu
Masa adalah saat aku bertemu
Masa adalah saat aku menunggu
Masa adalah saat engkau berlalu

Rasa dan Masa
Terkadang tak berada di kuadran yang sama
Terkadang Rasa terlambat datangnya
Sehingga saat Masa berlalu hanya sesal yg ada

 

CINTA 3 WANITA

wanita 1 :
cinta adalah…
saat dia tak ada aku mencari sosoknya
saat dia ada aku diam seribu bahasa

cinta adalah…
saat handphone tidak berbunyi
aku berharap dia menghubungi
saat dia berdering nyaring
aku malah menjawab garing

wanita 2 :
cinta adalah…
saat ingin tidur aku membayangkannya…
saat tidur kumimpi ku bersamanya…
saat  bangun tidur kutersenyum mengingatnya…

wanita 3 :
cinta adalah…
tema klasik film India….
terungkap saat hujan gerimis tiba…
sambil berdendang lagu bahagia…..

III. Tuhanku bila hati kawanku, terluka oleh tingkah ujarku (KJ 467)

terkadang inginku bercanda..
melepas sunyi yang ada…
tapi kau memasukkannya ke dalam dada
dan membuatmu menjadi seorang yang beda…

ingin ku bergurau lepas…
menghancurkan kepenatan yang mengeras…
bagai anak kecil yang berlari bebas…
lupa diri dengan canda terlewat batas…

dari sanubari terdalam
biarlah kami menghaturkan salam
dan beribu maaf agar tak dendam
agar bisa nanti malam
kami semua menumpang makan…hehehe…

 

IV. Penutup

Sesudah membaca kembali puisi-puisi kami, sadarlah kami kenapa sejak kecil, orangtua memaksa kami belajar, belajar memaksa kami menghapal, menghapal memaksa kami menghitung, menghitung memaksa kami menganalisa… Kami terpaksa, memaksa otak berkutat dengan angka, memaksa jari terlatih menekan kalkulator, memaksa mata begadang mengerjakan tugas gambar.

Baru siang ini kami sadar, kami ditakdirkan harus belajar, karena kami tidak punya bakat jadi seniman :-)

Respond now.