BLIND DATE
Mei 2, 2008
Selama ini Karin tidak pernah percaya keabsahan dan keakuratan kencan buta sebagai salah satu sarana menemukan pasangan. Jangankan yang buta, kencan yang sudah jelas-jelas melek saja, yang sudah tahu luar dalam, atas bawah, kanan kiri pasangan saja bisa berantakan.
Seperti dirinya dan Andri. Mereka bertetangga sedari kecil, sejak Karin berumur 2 hari, dan Andri kecil yang berusia 3 tahun menengok bersama mamanya ke rumah sakit. Andri yang suka memanjat pohon cherry di pinggir lapangan bola dan memetik buahnya untuknya. Andri yang dikala mereka sama-sama duduk di bangku SD selalu menjemputnya. Andri yang rela dihukum saat upacara bendera karena topinya dipinjamkan pada Karin yang lupa membawanya. Andri yang membalas surat cinta teman sekelasnya yang menembaknya saat SMP. Andri yang mengantar ke studio RCTI untuk lomba cheer leader waktu SMP, Andri yang jadi pacarnya saat mereka sama-sama kuliah di UI, dan Andri yang meninggalkannya untuk menikah dengan teman sekantornya.
Sekarang semua orang disekelilingnya seakan turut berbelasungkawa melihat nasibnya ditinggal menikah kekasih,di usia penghujung 20-an. Dan ucapan simpati mereka bervariasi. Ibunya : “Rin, tadi Ibu ketemu sama Ibu Hana di arisan. Anaknya yang kerja di Jepang besok cuti ke Jakarta. Ibu Hana mau ngadain syukuran, kita diundang lho. Kamu datang ya?” Datang? Kenal saja tidak dengan yang namanya Ibu Hana, apalagi anaknya. Terus kalau datang mau ngapain? Numpang makan saja? Basa-basi terus pulang?
Hani, teman kuliahnya, “Rin, kepala cabang gue ganteng banget, mapan, baik hati, udah setaun ditinggal istrinya. Anaknya cuma satu kok, masih kecil lagi. I’m sure you can handle.” Otak Karin langsung memutar adegan film Ratapan Anak Tiri dengan dirinya sebagai ibu tiri yang kejam.
Tommy, teman sekantornya, “Rin waktu kuliah dulu gue satu kos sama anak lulusan Tarnus. Orangnya pinter banget, jenius. Sekarang lagi S-2 di Australi. Herannya sampe sekarang dia masih jomblo. Gak sempet ato gak berani deketin cewek kali. Lo mau nyoba jadi ceweknya gak?”
Ya amplop, emangnya gue kelinci percobaan? Batin Karin. What’s wrong with you people? Nggak bisa rasanya melihat dia menikmati pengkhianatan kekasihnya sendiri.
Rin lo gak boleh kehilangan momentumnya.” Dewi, teman SD-nya malah nerangin pake bahasa Fisika segala. “Pacarlo ninggalin, lo harus buru-buru cari gantinya. Lo tau gaya tarik menarik antara dua benda berbanding terbalik sama kuadrat jarak. Makin lama jarak jomblo lo, makin lo nggak tertarik sama cowok, atau cowok nggak tertarik sama lo.”
Jadi setelah segala jenis bujukan, rayuan, intimidasi bahkan les fisika gratis dari orang-orang disekitarnya, Karin menyerah juga.
“Nggak ada salahnya kencan buta, Rin. Siapa tau ada yang cocok. Kalaupun nggak, ya kalian kan bisa berteman. Apes-apesnya kalo ketemu pertama lo udah muak liatnya, lo sms gue, nanti gue telpon dan pura-puranya lo harus segera ninggalin kencan karena ada sesuatu yang emergency. Escape dengan mudah Hani memberi jurus-jurus tipu muslihatnya.
“Iya gue escape pas kencannya doang. Besok-besoknya kalo dia telpon gue melulu ngajak keluar gimana?”
“Lutuye, anak PMDK tapi stupid juga. Kalo niat blind date lo beli nomer khusus. Nanti kalo nggak cocok itu nomer tinggal lo buang, toh kartu perdana sekarang murah.”
Setelah semua jurus pamungkasnya keluar, Karin mempersiapkan kencan buta pertamanya. Putera Ibu Hana yang baru saja pulang dari Jepang. Karin datang ke acara syukuran kedatangan Rio, pemuda itu. Physically, cukup keren. Sesudah makan bersama, Rio ngobrol berdua Karin di teras.
“Di Jepang itu, Rin. Nggak ada yang namanya macet di jalan, atau mpet-mpetan di bis. Mereka udah ngembangin transportasi massal. Jadi kita pakai kereta bawah tanah, yach nggak level lah dibanding kereta Depok jaman kamu kuliah dulu.”
Ini cowok sadar nggak ya? Kalo Indonesia baru merdeka tahun 45, itupun sempet dijajah Jepang 3.5 tahun? Tapi Karin menanggapi dengan tersenyum dan berucap, “Wah masak sih? Keren banget.” Salah satu jurus tipu muslihat meningkatkan GR kaum lelaki karya Hani.
“Di Jepang itu, Rin, kita aman pulang malam after work. Kendaraan tersedia 24 jam, cewek juga safe. Coba disini?”
“Di Jepang itu, Rin…” Sesudah kata-kata ke-35 yang menurut Karin pamer adanya, tangan Karin segera mengambil handphone di saku celananya, memencet satu kata di message nya, “HELP” dan mengirim ke Hani.
Tidak lama handphonenya berdering, Karin mengangkatnya, “Hallo, iya.. Kenapa?? Kapan?? Iya..ya.. aku kesana sekarang!” Kemudian dengan menampakkan wajah bingung dia menoleh kepada Rio. “Yo, maaf banget ya? Tadi temanku telpon, dia masuk Rumah Sakit padahal suaminya lagi di luar kota. Sorry banget ya. Aku pergi dulu.” Dan dengan tergesa Karin berpamitan pada orang tua Rio.
“Kuantar ya? Ini Jakarta lho, Rin. Nggak safe pergi malam-malam sendiri.”
“O ya? Aku udah 27 tahun tinggal disini, Yo. Dan Thanks God nothing terrible happens to me.” Karin mencegat taxi dan cerita Blind Date part 1 berakhir disini.
Hani langsung tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Karin. “Gebetan lo tuh, OKB, Orang Kluarnegeri Baru. Jadi masih norak. Mending lo nge-date sama bos gue. Umurnya baru 37 kok, ganteng. Yang pasti dia udah jalan-jalan hampir ke seluruh dunia jadi nggak norak lagi.”
Dan Pak Beni memang luar biasa baik, berwawasan luas, pintar, ramah, tidak sombong dan pamer, tipe pria matang yang sudah mapan. Mereka kencan pertama di sebuah restoran mewah di Jakarta. Setelah makan malam dan percakapan yang menyenangkan, Pak Beni, oops manggilnya sekarang sudah mas Beni, mengantarnya pulang.
“Rin, tadi Tita putri saya, dititipkan ke rumah neneknya. Keberatan nggak kalau saya jemput dia dulu baru ke rumahmu?”
Siapa tahu takdir? Siapa tahu dia besok jadi ibu tiri, jadi agar tidak ada sequel Ratapan Anak Tiri, dengan senang hati Karin menganggukkan kepalanya. Dan Tita gadis kecil berumur 4 tahun itu sangat cantik, membuat Karin berpikir secantik apa mamanya dulu. Dia langsung mencium tangan papanya begitu mereka berjumpa.
“Anak yang santun, betul-betul mudah menghandlenya,” batin Karin.
“Tita, kenalin ini teman papa, Tante Karin. Ayo kasih salam.” Karin menjulurkan tangannya, dan gadis kecil itu menyambutnya, membawa tangan Karin untuk dicium dan…
“Aaaww!!”Ternyata gadis itu menggigit tangannya. Karin mengusap punggung tangannya yang memerah dan lecet. Beni buru-buru meminta maaf.
Perjalanan ke rumah Karin adalah nightmare. Sepanjang jalan Tita bersenandung, “Kalin jelek.. Kalin jelek.. Tita cantik.. Tita cantik..” Wajah Beni memerah karena malu dan marah.
“Tita! Kok nyanyinya gitu. Minta maaf sama tante Karin.”
Dan anak itu menampakkan wajah cantiknya yang innocent, “Lho memang tante Kalin jelek, ya tante? Masak halus Tita bilang cantik? Boong dong namanya”. Karin tersenyum kecut dan mengalah.
“Sudahlah mas, nggak papa.” Tapi untungnya gadis cilik itu berhenti bernyanyi, baru tiga menit Karin barnafas lega, tiba-tiba,
“Aaw..” Rambutnya ditarik dari belakang oleh Tita. Dan hancurlah kencannya hari itu. Beni memarahi anaknya dengan keras, Tita menangis juga dengan keras, dan Karin juga harus mengambil keputusan keras, diambilnya handphonenya dan diketiknya satu kata,”HELP.” Dan kejadian berulang. Hani menelponnya dan dengan tampilan artis peraih Oscar, Karin berpamitan,
“Mas, tadi temenku telpon. Penting banget, aku harus ke rumah sakit. Aku naik Taxi aja deh kesana.”
“Aku antar aja, Rin.” Kata Beny ditengah hingar bingar tangisan Tita.
Karin menggeleng. “Mas antar Tita pulang aja deh, mungkin dia udah ngantuk jadinya ngambek.”
So this is it! Tidak akan pernah ada sequel Ratapan Anak Tiri.
“Rin, baru dua kali gagal kencan nggak boleh gave up. Lo tau berapa percobaan Thomas Alva Edison yang gagal? Kalo baru dua kali dia nyerah, kita selamanya pake petromaks.” Hani terus memberi semangat. Dan Karin melanjutkan daftar Blind Datenya. Sudah 8 kali kencan dan 8 kali sms HELP dikirim kepada Hani, dan 8 kali pula Karin meraih penghargaan Oscar atas acting escape-nya.
“Rin lo terlalu pemilih kali, turunin standard lo. Jangan baru first date udah langsung sms gue dan kabur dong. Tiap orang kan ada kekurangannya.” Karin Cuma mengiyakan semua nasihat dan petuah Hani, daripada ribut. Toh yang selama ini menyelamatkannya dari blind daternya adalah Hani.
“Minggu depan siapa lagi?” Tanya Hani.
“Temennya Tommy.”
Dewa, seorang sarjana Teknik ITB, sempat bekerja di perusahaan minyak dan mendapat beasiswa studi di Australia. Saat ini sedang berlibur di Indonesia. Sungguh untuk curriculum vitae sebagus itu Karin tidak berharap tampilan fisik. Tapi ternyata Dewa, setinggi 175, berat 68, hidung mancung, kulit putih, rambut tercukur rapi, dengan contact lens coklat muda pengganti kacamata minusnya, dagu berwarna kebiruan dan harum aftershave yang lembut mengingatkan Karin akan bau Andri yang begitu familiar di hidungnya. Betul-betul perpaduan yang tidak adil antara kecerdasan dan ketampanan.
“I finally found someone that makes me feel complete…’ Hati Karin langsung mendendangkan lagu Barbara Streisand. Betul kata Hani, kalau saja dia menyerah pada kencan yang kedua mana mungkin menemukan pria tampan berotak seperti ini. Sepertinya hidup Hani hari ini akan bebas dari sms helpnya.
Mereka baru saja bertemu di coffe shop, Karin duduk dan menyimak daftar menunya, saat ponsel Dewa berbunyi, dan dia tampak serius menjawabnya. Kemudian dengan mimik wajah bersalah dia berkata pada Karin.
“Karin, sorry banget tadi temenku telpon, dia masuk rumah sakit. Aku harus buru-buru kesana. Well, kita ketemu lain kali ya. Maaf sekali lagi and nice to meet you.” Dan Dewa melesat cepat. Meninggalkan Karin dengan daftar menu dan karmanya
Published on SPICE!edisi 23 Maret - 05 April 05